Antara Sepak dan Sempak

“Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri dan tak mengambil apapun kecuali dari dirinya sendiri…
cinta tiada memiliki pun tiada ingin dimilki: Karena cinta telah cukup bagi cinta”
(Kahlil Gibran)
Maaf, hari ini saya malas sekali untuk membicarakan sesuatu yang bersifat sesuatu, eh maaf (lagi) sesuatu yang bersifat ‘serius’ maksud saya. Jujur saja, saya tidak punya bahan untuk membicarakan sesuatu yang bersifat ‘serius’ itu. Dalam kesempatan ini saya ingin ngobrolin masalah bola saja, iya benar, Sepakbola bukan sempak bola.
Sumber gambar
Jika berbicara tentang sepakbola, tentu pembicaraan kita akan terarah menuju liga Eropa, sebut saja Liga Inggris, Liga Itali dan Liga Spanyol. Karena kenyataannya Negara-negara tersebut adalah jawara olahraga ini, bahkan tempat yang sangat menggairahkan bagi bisnis sepakbola dunia. Fondasi sepakbola mereka jauh melampaui kebudayaan kita sendiri, menejemen sepakbola dan kompetisi professional sudah berkembang pesat saat Bung Karno masih ngebacot masalah Nasionalisme dan Tan Malaka gontok-gontokan dengan Sutan Sjahrir. Maka, tak salah jika seorang kawan, sebut saja namanya Siddiq (bukan nama samaran) memajang poster CR9 a.k.a Cristiano Ronaldo, punggawa Tim Nasional Portugal dan Real Madrid, serta poster Klub Manchester United atau lumrah disebut MU, pertanyaannya, mengapa tidak memajang poster Firman Utina sang Kapten TIMNAS kita? Atau memajang poster PERSERA (Persatuan Sepakbola Sragen)? Jawabannya gampang saja, tidak ada yang bisa dibanggakan dari sepakbola kita saat ini. Jadi, wajar saja anak-anak negeri ini lebih membanggakan bintang, klub bahkan Negara lain, dibandingkan Negara sendiri, INDONESIA. Piye iki, apa yang salah?

Nasionalisme dan Sepakbola
Sepakbola meski hanya sebuah olah raga biasa pada umumnya, ternyata memiliki nilai positif yang cukup besar dalam hal membangun sebuah persatuan, setidaknya begitu kesimpulan saya. Jika kita lihat perjalan sejarah perjuangan Negara ini, kita akan mendapatkan halaman khusus tentang sepakbola yang (mungkin) jarang didapati dalam lembaran sejarah perjuangan Negara lain.
Aksi perjuangan kemerdekaan Negara ini tidak melulu berbicara mengenai rapat raksasa, aksi massa, geriliya dan bambu runcing, pun tidak hanya melahirkan sosok soekarno-hatta, Pak Dirman dan I Gusti Ngurah Rai, sepakbola pun menjadi alat untuk memperjuangkan kemerdekaan di Negara ini. Rasa nasionalisme yang tinggi mendorong Soeratin Sosrosoegondo untuk membuat sebuah wadah yang menaungi anak-anak muda progresif revolusioner untuk berjuang melalui jalur sepakbola, wadah itu diberi nama Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia yang dideklarasikan pada 19 April 1930 di Jogja. Menurut Asvi Warman Adam, motivasi Soeratin Sostrosoegondo mendirikan organisasi sepakbola itu adalah mewujudkan Sumpah Pemuda 1928 dengan berbasis nasionalisme sekaligus bagian dari proses penumbuhan integrasi nasional (Tempo, Rabu/23/2/2011)
Dengan semangat itu juga yang mendasari pola perjuangan PSSI, sekurangnya sampai decade 60-an. Pada masa itu, TIMNAS kita sangat disegani di level asia, sejarah pernah mencatat, Arsenal tersungkur di Gelora 10 November, generasi TIMNAS pada zaman itu pernah mencicipi putaran final olimpiade Melbroune tahun 1956. Alhasil, TIMNAS kita dijuluki ‘Macan Asia’ yang sempat merajai kancah persepakbolaan Asia.
Sepakbola adalah olah raga massa yang bersifat massal, kerena perlengkapannya cukup sederhana, mudah didapat dan murah tapi dapat melibatkan banyak orang untuk bermain. Inilah salah satu kelebihan dari olah raga ini. Dengan bermodal bola dan tanah lapang, kita bisa mengerahkan banyak taktik dan kerjasama yang solid.
Kampung yang memiliki tanah lapang, setiap sorenya hari bisa dipastikan kita melihat si kulit bundar sedang digocek pemain. Demikian juga di dalam kampus, sore hari merupakan waktu yang tepat untuk melihat dan bermain sepakbola. Di lapangan kampus, parkiran, taman bahkan jalan menjadi sasaran bagi mahasiswa untuk memenuhi hasrat terhadap hobi ini. Berdasarkan dari keumuman yang terjadi, sektor Pemuda Mahasiswa dengan sepakbola sangat erat hubunganya, tidak hanya hobi untuk memainkannya.
Liga Indonesia, rata-rata suporter fanatiknya adalah pemuda. Sebut saja Aremania Malang, The Jakmania Jakarta, Bonek Surabaya, Bobotoh Bandung, The Maczman Makasar dan beberapa tempat penggila bola lainnya seperti Medan hingga Papua. Rata-rata para suporter fanatik tersebut dipimpin dan didominasi oleh para pemuda. Kemanapun tim kesayangannya tampil, disanalah para pemuda sorak sorai memberikan dukungannya. Bisa kita bayangkan berapa juta energi para pemuda dan Mahasiswa yang tertumpah pada si kulit bundar. Meraka tidak hanya melulu bisa meneriakan yel-yel pembangkit semangat kesebesalasannya, mereka juga biasa mengadakan kegiatan-kegiatan social yang sangat dibutuhkan oleh rakyat, sungguh suatu kekuatan yang luar biasa untuk kemajuan Negara ini.
Jelasnya, dalam sepakbola, kita bisa mengaplikasikan taktik dan strategi guna meraih kemenangan, persatuan mutlak dibutuhkan, tanpa adanya persatuan, mustahil bisa meraih kemenangan. Pemuda-mahasiswa dapat menyalurkan energy ‘berlebih’-nya melalui hal positif ini. Pemuda, nasionalisme dan bola adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Kabut Gelap Sepakbola Indonesia
Belum lekang dalam ingatan kita (kita? Loe aja kalee!), TIMNAS Indonesia berlaga dalam hajatan besar, piala AFF (dulu piala tiger), TIMNAS Indonesia gagal menjuarai hajatan tersebut meski dihelat di rumah sendiri. Saya belum lupa, bagaimana TIMNAS Indonesia dipecundangi Malaysia dengan skor telak 3-0 di stadion Bukit Jalil, meski menang pada laga berikutnya, tak mampu membawa TIMNAS kita menjadi juara. Setiap kali TIMNAS kita berlaga, rasa nasionalisme terhadap Negara pun menebal, tak ayal, TIMNAS kita selalau mendapatka dukungan yang luar biasa dari segenap komponen Negara ini. Gelora Bung Karno seketika bergelora dengan keriuhan sorak sorai supporter TIMNAS dan setiap mata memelototi televisi mulai dari ujung Sumatera sampai Papua. Sorak sorai, makian, teriakan kegembiraan maupun kekecewaan membahana dari segenap penjuru negeri ini. Namun, dibalik antusiasme rakyat Indonesia yang mendukung kesebelasannya, TIMNAS Indonesia belum mampu mempersembahakan prestasi yang membanggakan bagi rakyat Indonesia. Jangankan berbicara pada level dunia, level Asia Tenggara saja TIMNAS Indonesia masih terseok-seok. Macan Asia itu kini menjadi Macan Ompong.
Sebenarnya apa sih yang menjadi permasalahan sepakbola Indonesia? Banyak pengamat, pemerhati serta praktisi sepakbola yang menyematkan bobroknya prestasi TIMNAS Indonesia kepada PSSI yang digawangi oleh nurdin halid. Berbagai pandangan miring tentang PSSI sudah menjadi rahasia umum. Prestasi yang memalukan dan kekalahan demi kekalahan terus menghiasi TIMNAS kita. Grafik negatif sepakbola nasional tidak bisa dilepaskan dari pembinaan yang kacau, suap dan kerusuhan yang terjadi di liga Indonesia, perebutan kekuasaan ditubuh PSSI sampai Ketua yang dipenjara merupakan beberapa persoalan dari sekian banyak karut-marutnya lembaga ini. Bagaimana mungkin kemajuan PSSI terjadi kalau orang nomor satunya atau ketua jelas-jelas seorang Koruptor dan masih tetap diberi kepercayaan untuk memimpin ketika dalam penjara. Kenyataan tersebut mejelaskan bahwa PSSI tidak dipimpin oleh seseorang yang memiliki dedikasi tinggi terhadap kemajuan sepakbola di negeri ini.

‘Industrialisasi’ Sepakbola
Dalam kongres PSSI di Bali bulan lalu, NH menyampaikan pidato pembukaan yang berjudul ‘Sepakbola Politik menuju Sepakbola Industri’, garis besarnya, NH ingin me-reformasi sepakbola Indonesia yang dulunya berorientasi politik menuju sepakbola yang berorientasi pada industry. Ternyata apa yang diucapkannya bukan hanya omong kosong tetapi benar diaplikasikan dalam orientasi sepakbola Indonesia kini. Cobalah ente tengok, PSSI dijadikan sebagai ‘ATM’ oleh NH cs, telah diketahui secara jelas, kompetisi (liga Indonesia) kita yang dihelat hanya sebagai ajang pertaruhan nama daerah, Liga Indonesia mayoritas diikuti oleh perserikatan sepakbola daerah yang mendapat kucuran dana tidak sedikit dari pemerintah daerah, kucuran dana dari pemda tersebut menjadi lahan korupsi pengurus PSSI. Mencuat selentingan, NH CS disogok oleh salah satu klub dari Kalimantan (PERSISAM Putra Samarinda) untuk meloloskan klub tersebut berlaga dalam Liga Super (ancur) Indonesia. Kucuran dana berlebih dari pemda untuk klub yang berlaga di LSI membuat ngiler pengurus PSSI, gak salah kalau mereka mempertahankan kursi empuk pengurus PSSI, atas dasar itulah NH berhasil merubah orientasi sepakbola Indonesia menjadi sepakbola industry, industry pribadi yang menjadi mesin pencetak duit untuk NH dan kroninya. ente berhasil, Nurdin!

Politisasi Sepakbola
Selain masalah korupsi, politisasi sepakbola merebak sejak PSSI ditangani oleh NH, coba ente amati, pengurus PSSI dari tingkat daerah sampai pusat didominasi oleh komplotan ‘sempak kuning’, makanya selama 8 tahun NH bisa mempertahankan posisinya sebagai ketua PSSI meski nihil prestasi!
TIMNAS Indonesia dijual murah demi pencitraan komplotan ‘sempak kuning’, bagaimana ketika TIMNAS Indonesia sedang focus menghadapi perhelatan besar piala AFF, digiring untuk meraih simpati dan popularitas komplotan ‘sempak kuning’, tak ayal, intrik ini menuai protes dari komplotan-komplotan lain yang tak kebagian jatah momen pencitraan, sebut saja komplotan ‘sempak biru’ yang bereaksi cukup keras menentang politisasi PSSI dan TIMNAS. Yang paling mutakhir, tentang suksesi di tubuh PSSI menjadi rebutan komplotan-komplotan rampok untuk meraih simpati supporter, perpecahan pun tak terelakan. Komplotan ‘sempak kuning’ mendukung status quo yang (bukan) kebetulan adalah juga sebagai kader militan komplotan ‘sempak kuning’, komplotan ‘sempak merah’ mengirimkan kader seniornya untuk menggantikan kader ‘sempak kuning’ yang mereka anggap tidak becus memimpin PSSI, ‘sempak biru’ masuk lewat jalur lain, mencoba memposisikan sebagai komplotan yang mendukung reformasi PSSI melalui kadernya yang duduk sebagai MENEGPORA, trik-nya, merendahkan diri untuk menaikkan mutu. Sungguh lakon yang sangat menjijikkan. Mungkin Bonek Mania masih geram jika mengingat liga Indonesia musim lalu, bagaimana tidak, PERSEBAYA dipaksa degradasi hanya untuk menyelematkan klub PELITA JAYA PURWAKARTA agar tidak terdegradasi. PERSEBAYA mensinyalir ada permainan dalam kasus itu, PELITA JAYA yang notabene milik Nirwan Dermawan Bakri (salah seorang pengurus pusat PSSI) adalah adik kandung dedengkot komplotan ‘sempak kuning’, kalau sudah seperti itu, siapa yang tidak mensinyalir sebagai keputusan yang tidak sportif? Mbah saya aja bilang bilang itu keputusan politis!

Pornoaksi, eh Provokasi!
'football without supporters is life without sex,' ujar Jock Stein, legenda sepakbola asal Skotlandia yang memahami betul arti pentingnya pendukung dan pemonton bagi timnya. Berikan supporter sepakbola Indonesia akses seluas-luasnya untuk memajukan sepakbola Indonesia, apalah artinya sepakbola tanpa supporter. Jangan pernah menyalahkan prilaku supporter, semestinya PSSI ngaca dulu, supporter adalah bagian dari sepakbola, sepakbola tidak bisa dipisahkan dari supporter. Sepakbola akan mati tanpa supporter, supporter tak kan pernah lahir tanpa adanya sepakbola. Sepakbola sebuah Negara di-asosiasikan kepada sebuah lembaga, sebut saja PSSI, jika PSSI-nya buruk, maka semua yang ada dalam lembaga itu akan menjadi buruk; kompetisinya, TIMNASnya, fasilitasnya bahkan supporternya! So, jangan salahkan supporter. :D
Sudah saatnya PSSI berbenah diri. Pimbinaan para pemain muda dan Kompetisi liga yang sportif serta manejemen yang mantap adalah ‘PR’ yang harus segera dibenahi oleh induk sepakbola negeri ini. Kepemimpinan yang bersih dan memiliki dedikasi yang tinggi terhadap sepakbola juga menjadi sasaran yang harus dibetulkan. PSSI harus tegas terhadap pimpinan yang tidak benar. Pimpinan tidak hanya para pejabat atau pengusaha yang hanya numpang nama, tapi benar-benar harus dipilih pimpinan yang mengerti dan memahami suara para penggiat bola, tetapi itu sulit dilaksanakan jika NURDIN HALID dan komplotannya masih menguasai PSSI, turunkan dulu NURDIN, kembalikan PSSI kepada penggiat bola (supporter, pemain, pelatih dan pencinta bola) berikan mereka kesempatan untuk menentukan arah tujuan sepakbola Indonesia. Disinilah bumi sepakbola Indonesia diuji pendirian dan keberpihakannya terhadap para penggemarnya.
LALU, KAPAN KITA MAEN BOLA?


“Sudahkah kita melindungi, menyayangi dan menjaga kecintaan kita yang bernama sepakbola?”
Jogja, 26 Februari 2011
-makalah untuk diskusi rutin Forum Tanpa Kelas CEMARA-

0 Response to "Antara Sepak dan Sempak"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel