Peringatan Hari Buta Aksara Internasional


43 tahun yang lalu, tepatnya 8 September 1965 di Teheran diadakan kongres Kongres Menteri-menteri Pendidikan se-dunia, dari kongres itu dicetuskan sebuah resolusi untuk melaksanakan gerakan Pemberantasan Buta Aksara diseluruh dunia, terutama dinegara-negara yang sedang berkembang. Kongres juga mengusulkan kepada Sidang Umum UNESCO untuk menjadikan hari itu, 8 September, sebagai Hari Aksara Internasional, yang kemudian menganjurkan diperingati setiap tahun oleh semua negara anggotanya.
Buta aksara atau buta huruf adalah ketidak mampuan sesorang untuk untuk mengidentifikasi, mengerti, menerjemahkan, membuat, mengkomunikasikan dan mengolah isi dari rangkaian teks yang terdapat pada bahan-bahan cetak dan tulisan yang berkaitan dengan berbagai situasi. (UNESCO)
Didunia ini jumlah buta huruf masih banyak terdapat di Negara-negara miskin atau Negara dunia ketiga seperti negara-negara Asia selatan, arab, dan Afrika utara (40% sampai 50%). Asia timur dan Amerika selatan memiliki tingkat buta huruf sekitar 10% sampai 15%.. biasanya tingkat melek aksara ini dihitung melalui prosentase populasi dewasa yang bisa menulis dan membaca.
Di Indonesdia sendiri, jumlah penderita buta aksara pada tahun 2006 mencapai 15,6 juta orang dari total sekitar 217 juta penduduk Indonesia yang masih buta huruf. Dari 15,6 juta itu, sekitar 70 persennya adalah perempuan.(Sumber:Kompas)

dalam Laporan Program Pembangunan 2005 PBB, Indonesia menempati urutan ke -95 daftar tingkat melek huruf, jauh dibawah Negara-negara ASEAN semisal Malaysia, Thailand, Singapore dan Filipina.
Banyak ahli yang mengatakan, permasalahan mendasar dari buta huruf adalah kemiskinan karena kebanyakan Negara-negara yang masayarakatnya buta huruf adalah Negara miskin. Pemberantasan buta huruf harus diawalai dengan pemberantasan kemiskinan. Aspek politik dan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari pemberantasan buta huruf. Kasus di Indonesia misalnya, segetol apapun pemerintah Indonesia menyelesaikan permasalahan buta huruf dengan berbagai solusi yang diterapkan, akan sulit terlaksana jika aspek politik dan ekonomi tidak dibenahi. Jika pendidikan kita masih berorientasi pasar tentunya buta huruf sulit diberantas. Penyandang buta huruf kebanyakan berasal dari rakyat miskin karena mereka tidak mampu mengakses pendidikan. Usaha-usaha pemerintah yang hendak mengkomersilkan pendiikan (BHMN dan RUU BHP) akan menyebabkan tertutupnya akses masyarakat untuk mengenyam pendidikan, jika rencana mengkomersilkan pendidikan tetap dilaksanakan, bukan tidak mungkin penyandang buta huruf akan semakin bertambah, mengenyahkan buta huruf akan menjadi mimpi!
Berbicara buta huruf, tentunya tidak terlepas dari pendidikan. Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam membangun suatu negara, karut marutnya pendidikan pada suatu bangsa dapat dipastikan masyarakatnya tidak mampu membangun bangsanya, itulah sebabnya negara-negara maju menempatkan pendidikan pada posisi yang paling utama. Dalam teorinya, Negara kita menempatkan pendidikan pada prioritas utama tetapi prakteknya Negara kita menganak tirikan pendidikan. Dalam UUD 1945 telah jelas diatur bahwa pendidikan menjadi tanggung jawab Negara untuk membiayainya. Jika saja pemerintah kita memenuhi amanat UUD 1945, pasti Negara kita akan terlepas dari momok buta huruf. Rakyat menunggu keseriusan pemerintah untuk memberantas buta huruf. Menurut Van Hoof & Van Wieringen (1986) mengatakan dalam suatu konferensi pendidikan tinggi Eropa, “Jika pemerintah suatu negara tidak secara serius memerhatikan arah dan pengelolaan pendidikan tinggi di negaranya, dapat dipastikan pembangunan ekonomi negara tersebut akan terhambat.(Sumber:myhobbyblogs.com)
Pemberantasan buta huruf herus segera dilaksanakan melalui pembukaan akses yang sebesar-besarnya kepada rakyat miskin untuk mengakses pendidikan. Pencabutan subsidi pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah harus segera dihentikan. Komersialisasi dan privatisasi lembaga pendidikan harus dibatalkan, sebaliknya Negara harus bertanggung jawab dan memobilisasi anggaran dan sumber daya untuk membenahi sector pendidikan.semoga hari buta aksara tidak diperingata hanya sebatas seremonial belaka tetapi ada langkah kongkrit dari pemerintah untuk memberantas buta aksara di Indonesia.
Tolak komersialisasi dan privatisasi pendidikan, wujudkan pendidikan yang ilmiah, demokratis dan mengabdi kepada rakyat!


Gambar dikutip dari vhrmedia.com

0 Response to "Peringatan Hari Buta Aksara Internasional"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel